Cetak halaman ini
Sabtu, 11 Mei 2019 22:16

Potensi Pisang dalam Perbaikan Nasib Petani di Sulawesi Selatan

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Potensi Pisang dalam Perbaikan Nasib Petani di Sulawesi Selatan Budidaya Pisang (FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra)

Indonesia sangat potensial bagi pengembangan produk holtikultura karena posisinya yang berada di garis khatulistiwa. Subsektor Hortikultura memberikan nilai tambah dalam perekonomian Indonesia hampir mencapai Rp160 triliun di tahun 2014, akan tetapi kontribusinya terhadap total PDB Indonesia hanya sebesar 1,5 persen. Subsektor holtikultura terkecil dalam capaian nilai tambah yaitu hanya Rp159,52 Triliun sementara subsektor tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp343,59 Triliun dan Rp397,9 Triliun. Sementara itu, dari total nilai tambah sektor pertanian yang mencapai Rp1.410 Triliun, subsektor holtikultura hanya berkontribusi 11,31 persen yang lagi-lagi jauh di bawah subsektor tanaman pangan dan perkebunan. Dari gambaran data tersebut, peran subsektor holtikultura masih kurang memuaskan. Namun, dilihat dari nilai tambah per luas tanam yang hampir mencapai 8 kali lipat nilai ekonomis tanaman pangan atau 6,5 kali lipat tanaman perkebunan serta nilai tambah per rumah tangga usaha pertanian (RTUP) holtikultura mencapai 1,5 kali lipat dari RTUP tanaman pangan dan perkebunan, subsektor holtikultura justru punya potensi pengembangan yang lebih baik dari tanaman pangan dan perkebunan. Hal ini jelas memperlihatkan potensi tersembunyi tanaman holtikultura yang bisa dipacu dengan kebijakan pertanian yang tepat.

Periode tahun 2010-2014 kebutuhan masyarakat akan produk hortikultura rata-rata sekitar 1,11 kg buah-buahan per kapita tiap tahunnya. Akan tetapi rata-rata nilai konsumsinya meningkat sehingga menjelaskan bahwa harga produk hortikultura meningkat tiap tahunnya dan kebutuhan produk hortikultura secara rata-rata bersifat non komplementer artinya produk tersebut akan terus dikonsumsi walaupun harganya terus meningkat (SHR 2014).

Berdasarkan jumlah RTUP usaha hortikultura strategis yang diusahakan, pisang merupakan komoditi yang paling banyak diusahakan oleh RTUP usaha hortikultura mulai dari Sumatera sampai ke Papua. Dari sisi proyeksi produksi dan konsumsi pisang nasional 2016-2020, rata-rata produksi pisang sebesar 1,98 persen atau 8.059.615 ton pisang pada tahun 2020. Sedangkan untuk sisi permintaan pisang, rata-rata pertumbuhan yaitu defisit (0,52%) atau hanya 1.506.153 ton tahun 2020, sehingga terjadi surplus pisang sebesar 6.553.462 ton pada tahun 2020 atau rata-rata pertumbuhan sebesar 2,60 persen (Pusat Data Dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian). Hal ini menunjukkan bahwa pisang merupakan komoditi yang paling besar menjadi tumpuan pendapatan para petani subsektor hortikultura strategis di lain pihak diperlukan penanganan serius terhadap peningkatan permintaan pisang guna mengimbangi laju produksi pisang nasional. Dengan demikian, peningkatan kualitas dan kuantitas usaha komoditi pisang serta usaha mempromosikan konsumsi pisang menjadi penting untuk ditindaklanjuti.

Pada tingkat Sulawesi Selatan, nilai PDRB tahun 2003 sebesar Rp7,4 triliun bertumbuh sebesar 181,72 persen selama 10 tahun terakhir, sehingga nilainya pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp20,7 triliun.  Fakta yang ada pada periode yang sama, jumlah RTUP subsektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 38,93 persen dari sebesar 446 ribu lebih RTUP menurun menjadi 272,5 ribu RTUP (ST2013 BPS Sulawesi Selatan). Akan tetapi, jika melihat nilai PDRB nya, penurunan jumlah RTUP subsektor hortikultura tidak terlalu berpengaruh secara ekonomi karena masih menjadi penyedia lapangan kerja yang cukup banyak yaitu 245,5 ribu atau 82,43 persen pekerja laki-laki dan 52 ribu orang atau 17,57 persen pekerja perempuan. Sedangkan secara khusus untuk potensi tanaman hortikultura tahunan, ST2013 mencatat potensi utama Sulawesi Selatan didominasi oleh buah-buahan tahunan antara lain : pisang, markisa, durian, langsat, rambutan dan mangga dengan jumlah pohon/rumpun antara 600 ribu – 4,6 juta pohon/rumpun. Total produksi buah-buahan di Sulawesi Selatan tahun 2013 mencapai 666,5 ribu ton. Jenis buah yang paling bayak dihasilkan adalah pisang mencapai 28,03 persen dari total buah-buahan yang diproduksi. Jumlah ini meningkat signifikan (25,31%) dari tahun 2012 yang hanya sebesar 149 ribu ton.

ST2013 mencatat petani pisang di Sulawesi Selatan telah menembus angka 112,581 RTUP menurun dari 297.493 RTUP pada tahun 2003. Pada 2013, setiap petani secara rata-rata menanam pisang sebanyak 40 rumpun dengan total rumpun pisang yang ditanam petani mencapai 4,6 juta rumpun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 68 persen sudah menghasilkan pisang 190 ribu ton. Kabupaten pinrang dan bone menjadi penyumbang terbesar pisang dengan menanam masing-masing 779 ribu dan 639 ribu rumpun pisang. Jika dibandingkan dengan tanaman hortikultura tahunan yang punya potensi produksi di Sulawesi Selatan, pisang masih unggul dibanding mangga, duku, jeruk, markisa, rambutan dan durian baik dari segi jumlah RTUP, jumlah pohon/rumpun, dan produksi.

Penurunan jumlah RTUP tanaman pisang pada tahun 2013 patut disayangkan jika dilihat data NTP subsektor Hortikultura yang nilainya dari tahun 2009-2016 selalu berada di atas angka 100. Penurunan RTUP 2013 tersebut juga patut dicermati ditengah kenaikan produksi pisang dan penurunan luas panen dari tahun 2012 ke 2013.  Penurunan tersebut juga patut dipertanyakan ditengah tingginya produksi pisang diantara buah-buahan unggulan Sulawesi Selatan, tren peningkatan harga, serta potensi produk turunan pisang. Selain itu, tren penurunan konsumsi pisang juga memberikan efek negatif terhadap pendapatan petani. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, ada sekitar 112.581 RTUP tanaman pisang di Sulawesi Selatan yang akan merasakan pengurangan atau bahkan kehilangan pendapatan mereka.

Menyadari posisi pisang sebagai tanaman rakyat yang dikenal dan akrab dengan masyarakat, dapat tumbuh di mana saja, dan perawatan relatif mudah dan murah, perlu kiranya untuk lebih memberikan perhatian lebih kepada para petani pisang terkhusus petani gurem untuk bisa memberikan solusi dalam menangani kemiskinan dan ketimpangan yang mereka rasakan. Petani gurem (menurun dari 40,72% tahun 2003 menjadi 37,54% tahun 2013) dan buruh tani merupakan masyarakat yang masuk dalam kategori masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat rentan mengalami gejolak ekonomi. Sebagai salah satu solusi untuk menangani kemiskinan dan ketimpangan petani pisang, salah satu tawaran yang diajukan adalah dengan memperbaiki struktur pendapatan petani pisang dengan menggunakan pendekatan kewilayahan.

Andi Risfan Rizaldi

Baca 1604 kali
Muhammad Afif Sallatu

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Terkini dari Muhammad Afif Sallatu

1 komentar