LOGOV CELEBES

PT. Local Governance (LOGOV) Celebes merupakan lembaga riset privat yang berbasis di Makassar. Berisi sejumlah dosen dan peneliti dari berbagai bidang seperti ekonomi pembangunan, manajemen, akuntansi, sosial ekonomi pertanian, hukum, kelautan dan perikanan, administrasi publik, dan sosial politik, yang telah bekerja sekian lama sebagai sebuah tim. Lembaga ini melayani sejumlah kegiatan akademis seperti riset, konsultan, pelatihan, publikasi, dan sejumlah layanan terkait lainnya.

Opini

Jumat, 14 September 2018 06:21

Daya Saing Sulawesi Selatan 2018

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(1 Pilih)
Daya Saing Sulawesi Selatan 2018 Sumber: ekonomi.bisnis.com

Belum lama ini, National University of Singapore, LKY School of Public Policy, Asia Competitiveness Institute (ACI), mempublikasikan Analisis Daya Saing Provinsi-Provinsi di Indonesia, termasuk secara khusus menerbitkan hasil kajian dan rekomendasi untuk Prov Sulsel. Kajian seperti ini sudah dilakukan setiap tahun untuk kurun waktu 2015-2018, dimaksudkan untuk mendukung perumusan strategi pembangunan yang tepat. Disamping untuk memberikan gambaran bagi mitra strategis Indonesia. Juga, dimaksudkan dapat menyehatkan persaiangan antar provinsi di Indonesia;


Kajian ini memperlihatkan peringkat daya saing setiap provinsi, dan setiap tahun ACI menyelenggarakan konferensi tahunan pada setiap Nopember di Singapore. Kegiatan tahunan ini dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi APINDO, yang selalu bermitra dengan ACI. Kegiatan tahunan ini juga melibatkan Perguruan Tinggi dan Pemerintah Provinsi membahas hasil-hasil kajian ACI tentang berbagai substansi pembangunan level provinsi;

Metodologi yang digunakan dalam Kajaian Daya Saing yang digunakan oleh ACI mencakup 4(empat) lingkup besar dengan bobot yang sama yaitu masing-masing 25 persen. Yaitu meliputi : (1) Stabilitas Ekonomi Makro, (2) Pemerintahan dan Institusi Publik, (3) Kondisi Finansial, Bisnis, dan Tenaga Kerja, dan (4) Kualitas Hidup daan Pembangunan Infrastruktur. Keempat lingkup besar ini kemudia dijabarkan masing-masing ke dalam 3(tiga) sub-lingkup, yang keseluruhannya mencakup 105 indikator. Keempat lingkup besar di atas dipandang mempengaruhi kemampuan setiap provinsi untuk mencapai pembangunan ekonomi yang tinggi dan inklusif dalam kurun waktu yang cukup panjang;

Selama kurun waktu 2015-2018, kinerja saya saing Sulsel secara umum belum dapat dikatakan menggembirakan. Untuk keempat lingkup besar di atas, pada tahun 2018, Sulsel memang masuk dalam kelompok 10 besar provinsi dalam mencatat skor daya saing tinggi di Indonesia tertinggi di KTI. Tetapi nampak jelas bahwa kondisi daya saing Sulsel berfluktuasi sepanjang kurun waktu 2015-2018. Daya saing tertinggi yang pernah dicapai adalah peringkat ke 6 pada tahun 2016, lalu dengan kecenderungan menurun, ke peringkat 8 pada tahun 2017. Dan penting dicatat bahwa pada tahun 2018, skor yang dicapai Sulsel dengan peringkat ke 10 tersebut (0.249) sangat berbeda jauh dengan skor DKI yang menduduki peringkat ke 1 (tertinggi, 3.172). Peringkat terendah (ke 34) adalah Papua dengan skor (minus) –1.473 dan peringkat ke 33 adalah Sulbar dengan skor (minus) –1.213;
Kajian ACI ini, untuk Sulsel menjadi semakin bila dicermati lebih jauh pada masing-masing keempat lingkup besar tersebut di atas. Ternyata Sulsel, di KTI, hanya terbaik untuk Stabilitas Ekonomi makro, dengan skor (minus) –0.056. Itupun untuk kurun waktu 2015-2018, peringkatnya cenderung terus menurun. Pada tahun 2018, menempati peringkat ke 11, sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya ke 8 (2015), ke 9 (2016) dan ke 8 (2017);

Untuk lingkup Pemerintahan dan Institusi Publik, di KTI, pada tahun 2018, tercatat Gorontalo yang tertinggi dengan peringkat ke 4, dengan skor 1.627, Sultra pada peringkat ke 7, dengan skor 0.771, serta Sulteng pada peringkat ke 10, dengan skor 0,587, sedangkan Sulsel berada pada peringkat ke 11, dengan skor 0.551. Hal ini cukup memprihatinkan karena pada tahun 2016 menduduki peringkat ke 2 dan pada tahun 2017 menduduki peringkat ke 3. Nampaknya kondisi tahun 2018 ini perlu mendapatkan perhatian yang serius, mengingat penurunan peringkat Sulsel terlalu dalam;

Untuk Kondisi Finansial, Bisnis dan tenaga kerja, di KTI, pada tahun 2018, skor tertinggi dicapai oleh Papua Barat, yaitu peringkat ke 12, meski dengan skor (minus) –0.011, sedangkan Sulsel menempati peringkat 14 dengan skor (minus) -0.041. Lagi-lagi patut dicatat bahwa pada tahun 2016, Sulsel menduduki peringkat ke 8 dan turun menjadi peringkat ke 13 pada tahun 2017;

Untuk Kualitas Hidup dan Pembangunan Infrastruktur, di KTI pada tahun 2018, peringkat tertinggi dicapai oleh Sulut, yaitu pada peringkat ke 8 dengan skor 0.788, menunjukkan perbaikan peringkat secara konsisten dibandingkan dengan kurun waktu sebelumnya. Sedangkan Sulsel, berada pada peringkat ke 13 dengan skor 0.401, turun terus dari peringkat ke 9 pada tahun 2017 an peringkat ke 7 pada tahun 2016;

Secara umum, kajian untuk Sulsel menyimpulkan bahwa selama kurun waktu 2015-2018 terjadi penurunan dalam semua lingkup besar yang dikaji : Stabilitas Ekonomi Makro dari 8 ke 11, Pemerintahan dan Institusi Publik dari 3 ke 11, Kondisi Finansial, Bisnis dan Tenaga Kerja dari 13 ke 14, dan Kualitas Hidup dan Pembangunan Inrastruktur dari 9 ke 13. Kekuatan Sulsel terletak pada Ketersediaan Layanan Dasar, sedangkan kelemahannya pada pembentukan PDRB dan sektor perdagangan. Karena itu rekomendasi kajian ini ada 2 (dua) : (1) Perbaikan tingkat ekonomi dari segi pendapatan dan perdagangan, dan (2) Pengembangan perekonomian yang lebih stabil dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan industri

Mengingat bahwa metode perhitungan skor per provinsi yang memperlihatkan daya saing relatif, maka nampaknya untuk keseluruhan empat lingkup besar yang dikaji, keberadaan 5(lima) provinsi yang ada di pulau Jawa (DKI, Jabar, Jateng, Jatim dan DIY) sangat besar pengaruhnya pada skor rerata nasional. Untuk itu, dua catatan penting patut dikemukakan : (1) kondisi daya saing provinsi secara terbuka dengan kehadiran ke lima provinsi di pulau Jawa di atas, menjadikan gambaran daya saing terlalu timpang. Gambarannya tentu akan berbeda bila ke lima provinsi tersebut tidak ikut diperhitungkan dalam rerata nasional, dan (2) walaupun, dengan dimasukkannya ke lima provinsi di pulau Jawa tersebut, disamping menunjukkan terdapatnya persaingan antar provinsi yang memang terbuka, juga bisa menjadi target sasaran bagi provinsi lainnya untuk memperbaiki skor dan peringkatnya

Melalui kajian ini, dimana posisi relatif setiap provinsi diperbandingkan satu dengan yang lainnya, sepatutnya menjadi pendorong dan motivasi untuk memperbaiki kondisi pada ke empat lingkup besar dan sub-lingkup yang memang mencakup hal-hal penting bagi pembangunan regional masing-masing provinsi. Dengan demikian, dari hasil kajian ini ada dua hal pokok yang patut dicermati, baik Sulsel maupun provinsi lain di KTI, yaitu : (1) untuk memperbaiki daya saing dari waktu ke waktu, sub-lingkup dan segenap indikator yang digunakan dalam kajian ini, terutama yang membutuhkan perbaikan kinerja, perlu dipahami permasalahan konkrit yang melingkupinya. Agar selanjutnya dapat dilakukan upaya-upaya sistematik dan terukur yang patut dilakukan secara melembaga dan terlembagakan, (2) untuk tujuan perbaikan yang dimaksud di atas, nampaknya sangat dibutuhkan adanya kebijakan berbasis evidence yang secara konsisten diimplementasikan dan secara berlanjut dievaluasi. Hal ini berkenaan dengan kebijakan yang valid serta lebih terarah dan lebih tepat sasaran

Memang disadari bahwa khususnya di KTI termasuk Sulsel terdapat sejumlah hambatan dan kendala yang harus dihadapi untuk meningkatkan daya saing provinsi. Hal ini tentunya merupakan suatu tantangan tersendiri dalam mencapai kinerja pembangunan secara umum. Untuk itu, dua catatan penting patut untuk dipertimbangkan dalam merubah tantangan sebagai peluang pembangunan, yaitu : (1) kemampuan untuk mengidentifikasi setiap permasalahan yang terkait langsung dengan pembentukan skor (sub-lingkup dan indikatornya), yang tentunya hanya dipahami oleh perangkat pemerintahan provinsi sendiri. Dengan demikian, pemecahan masalahnya bisa dilakukan ataupun ditangani secara efektif, (2) mencermati hal-hal yang selama ini sudah baik dalam pembentukan skor, untuk kemudian secara kreatif dan inovatif seyogyanya mampu ditingkatkan terus perbaikannya

Kedua hal di atas, bisa dilakukan secara serentak atau parallel, namun hal tersebut terpulang pada kondisi obyektif kelembagaan dan aparat yang terkait. Adalah provinsi yang bersangkutan sendiri yang paling tahu, yang mana yang lebih optimal bisa memberikan hasil. Namun bila kondisi kelembagaan dan aparat yang tersedia cukup terbatas kapasitas, maka sangat disarankan untuk mengoptimalkan hal-hal yang sudah baik selama ini dalam pembentukan skor, dan menjadikannya sebagai peluang yang paling memungkinkan. Pendekatan seperti ini, biasanya disebut sebagai pendekatan ‘Appreciative Inquiry’;

Makassar, Medio September 2018.-

A. M. Sallatu

Baca 1209 kali
Risvan Rizaldi

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

1 komentar

  • Tautan Komentar Stevwern Minggu, 08 September 2019 06:07 ditulis oleh Stevwern

    Comprar Cialis Original Espana Buy Cialis Tadalafil levitra 20mg bayer Prix Boite Cialis 5mg Acquisto Viagra Legale Injection Amoxicillin Dosage

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

LAYANAN

  • Penelitian
  • Konsultan
  • Publikasi
  • Seminar
  • Workshop
  • Pelatihan
  • Kerja Sama

KONTAK KAMI

JL. ANCE DG. NGOYO NO. 8/D
MAKASSAR, SULAWESI SELATAN
INDONESIA
90231

  +62-411-4679343
  +62-852-9999-5447
Surel: office@logovcelebes.id
 
          logovcelebes@gmail.com 

FOLLOW

twitter logo transparent 15 580b57fcd9996e24bc43c521



LOGOV CELEBES

PT. Local Governance (LOGOV) Celebes merupakan lembaga riset privat yang berbasis di Makassar. Berisi sejumlah dosen dan peneliti dari berbagai bidang seperti ekonomi pembangunan, manajemen, akuntansi, sosial ekonomi pertanian, hukum, kelautan dan perikanan, administrasi publik, dan sosial politik, yang telah bekerja sekian lama sebagai sebuah tim. Lembaga ini melayani sejumlah kegiatan akademis seperti riset, konsultan, pelatihan, publikasi, dan sejumlah layanan terkait lainnya.